Cerita Tengah Malam
aku benci ketika kau mulai akrab dengan si tengah malam, begitu aku menyebutnya.
rasanya akhir-akhir ini aku kerap kali tidur larut malam
katamu tengah malam punya banyak cerita.
ternyata benar,
suasana terasa lebih asyik saat bercengkrama dengan si tengah malam.
ia tak pernah ceritakan kebodohan-kebodohan ini pada pagi,
walau pagi seringkali datang tanpa permisi.
tapi sepertinya aku kebablasan akrab dengan si tengah malam
hampir tiap hari aku mendatanginya hanya untuk menghabiskan waktu,
seperti malam minggu kali ini.
kata si tengah malam, ia tak pernah menjumpai mu seminggu ini.
sama, aku juga, batinku.
"kau merindukannya, mal?" tanyaku
"tidak juga. hm... mungkin belum. aku tak pernah merindukan seseorang sebelumnya, jadi aku tak tahu bagaimanakah rasanya rindu itu." terang si tengah malam
"apakah rasanya manis? seperti jagung yang kau bawakan kemarin malam?
hm.. atau masam, ya?" tambahnya mulai menerka-nerka.
"rasanya seperti kau ingin buang air besar tapi tak ada toilet" aku menjawab sekenanya saja.
"aku kan tak pernah buang air besar, nona. tak seperti manusia yang banyak makan, serba mahal, warna-warni. oh,, dan juga semuanya manis!! meski mereka tahu semua makanan itu akhirnya akan mereka keluarkan lagi"
"itu sudah takdir tahu!! kalau tidak makan bisa mati!" protesku dengan bibir cemberut.
yah.. beginilah percakapan dengan si tengah malam, terkadang bisa sangat sengit.
"HEY kau belum menjawab pertanyaanku yang tadi" serunya membuyarkan lamunan.
"kan aku sudah bilang rasanya seperti mau buang air besar" jawabku.
"aku tak menganggap itu serius! beri aku gambaran yang lebih spesifik, dong" rengeknya
"kau pernah memelukku kan? nah, rasanya persis seperti akan memeluk seseorang tapi tangan yang kau punya terlalu kecil untuk itu. kau tak bisa berbuat apa-apa selain meminta jarak agar mempersempit wilayahnya hingga tangan kecilmu itu cukup untuk meraihnya ke pelukanmu" jelasku.
"lebih baik aku tak pernah merasakan rindu. sepertinya bukan sesuatu yang manis" jawabnya.
"boleh aku memelukmu? untuk memastikan jika aku tidak sedang merindukanmu saat ini." pinta si tengah malam.
aku mengulurkan tangan dan memeluknya erat.
aku tahu si tengah malam sedang bersedih dengan ketidakhadiran mu disini.
begitu pula denganku.
rasanya akhir-akhir ini aku kerap kali tidur larut malam
katamu tengah malam punya banyak cerita.
ternyata benar,
suasana terasa lebih asyik saat bercengkrama dengan si tengah malam.
ia tak pernah ceritakan kebodohan-kebodohan ini pada pagi,
walau pagi seringkali datang tanpa permisi.
tapi sepertinya aku kebablasan akrab dengan si tengah malam
hampir tiap hari aku mendatanginya hanya untuk menghabiskan waktu,
seperti malam minggu kali ini.
kata si tengah malam, ia tak pernah menjumpai mu seminggu ini.
sama, aku juga, batinku.
"kau merindukannya, mal?" tanyaku
"tidak juga. hm... mungkin belum. aku tak pernah merindukan seseorang sebelumnya, jadi aku tak tahu bagaimanakah rasanya rindu itu." terang si tengah malam
"apakah rasanya manis? seperti jagung yang kau bawakan kemarin malam?
hm.. atau masam, ya?" tambahnya mulai menerka-nerka.
"rasanya seperti kau ingin buang air besar tapi tak ada toilet" aku menjawab sekenanya saja.
"aku kan tak pernah buang air besar, nona. tak seperti manusia yang banyak makan, serba mahal, warna-warni. oh,, dan juga semuanya manis!! meski mereka tahu semua makanan itu akhirnya akan mereka keluarkan lagi"
"itu sudah takdir tahu!! kalau tidak makan bisa mati!" protesku dengan bibir cemberut.
yah.. beginilah percakapan dengan si tengah malam, terkadang bisa sangat sengit.
"HEY kau belum menjawab pertanyaanku yang tadi" serunya membuyarkan lamunan.
"kan aku sudah bilang rasanya seperti mau buang air besar" jawabku.
"aku tak menganggap itu serius! beri aku gambaran yang lebih spesifik, dong" rengeknya
"kau pernah memelukku kan? nah, rasanya persis seperti akan memeluk seseorang tapi tangan yang kau punya terlalu kecil untuk itu. kau tak bisa berbuat apa-apa selain meminta jarak agar mempersempit wilayahnya hingga tangan kecilmu itu cukup untuk meraihnya ke pelukanmu" jelasku.
"lebih baik aku tak pernah merasakan rindu. sepertinya bukan sesuatu yang manis" jawabnya.
"boleh aku memelukmu? untuk memastikan jika aku tidak sedang merindukanmu saat ini." pinta si tengah malam.
aku mengulurkan tangan dan memeluknya erat.
aku tahu si tengah malam sedang bersedih dengan ketidakhadiran mu disini.
begitu pula denganku.
Komentar
Posting Komentar